Kamis, 14 Juli 2011

MUTU BETON K - 250 PADA KOLOM, BALOK DAN PELAT LANTAI PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG RSUD JL. KARTINI NO. 101 AMBARAWALANTAI

MUTU BETON K-250 PADA KOLOM, BALOK DAN PELAT LANTAI
PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG RSUD JL. KARTINI NO. 101 AMBARAWA


A. Tinjauan Umum Proyek
Pada Perkembangan era globalisasi pertumbuhan penduduk yang sakit dratis
akan menuntut peningkatan dan penambahan sarana-sarana pelayanan kesehatan.
Itu semua dapat terlaksana jika ada proses kegiatan medis yang efisien,
efektif dan baik mutunya yang nantinya akan mampu memberikan pelayanan
kepada masyarakat umum tentang pelayanan kesehatan yang diberikan
oleh RSUD AMBARAWA. Melihat hal itu maka dengan sendirinya masyarakat
umum akan datang berobat ke RSUD AMBARAWA tersebut. Tetapi ada satu masalah
yang sangat penting yaitu karena daya tampung gedung bagi pasien yang
inap itu terbatas dan pasien menunggu antrian banyak antara pasien yang
satu dengan pasien lainnya, maka dibangunlah Gedung RSUD AMBARAWA 2 lantai.
B. Latar Belakang Proyek
Pembangunan Gedung RSUD AMBARAWA adalah sebagai perwujudan dari rasa peduli
pada masyarakat umum, yang mana nantinya akan memberikan pelayanan
kesehatan dan proses kegiatan paramedis yang akan menyembuhkan
pasiennya. Oleh karena itu diperlukan sarana-sarana RSUD itu
sendiri dan paramedis profesional.
C. Tujuan Proyek
Tujuan Proyek Pembangunan Gedung RSUD AMBARAWA yaitu usaha peningkatan
kesehatan rujukan dan rumah sakit Propinsi Jawa Tengah.
D. Ruang Lingkup Artikel
Penulis mengambil contoh Proyek Pembangunan Gedung RSUD AMBARAWA selama
90 hari sewaktu kerja praktek kuliah S1 Teknik Sipil dan pekerjaan yang dapat
diamati dalam jangka waktu tersebut adalah sebagai berikut :
Ο Tinjauan Umum Proyek
Ο Latar Belakang Proyek
Ο Tujuan Proyek
Ο Ruang Lingkup Artikel
Ο Data Umum Proyek
õ Lokasi Proyek
õ Data Bangunan
Ο Metode Pengumpulana Data
Ο Manajemen dan Organisasi Proyek
Ο Perencanaan
Ο Bahan dan Peralatan
Ο Tahap Pelaksanaan
Ο Tinjauan Umum Proyek
Ο Pengawasan dan Pengendalian Proyek
Ο Penutup
E. Data Umum Proyek
1. Lokasi Proyek
Proyek Pembangunan Gedung RSUD AMBARAWA terletak di Jalan
Kartini No. 101 AMBARAWA,dengan rincian :
ô Sebelah Barat : Gedung Poliklinik - RSUD AMBARAWA dan Jl. Asrama
Tentara
ô Sebelah Timur : Daerah Rencana Pembangunan
ô Sebelah Utara : Jl. Kartini dan Gedung UGD - RSUD AMBARAWA
ô Sebelah Selatan : Gedung Instalasi Gizi - RSUD AMBARAWA
Pertimbangan-pertimbangan dipilihnya lokasi tersebut antara lain :
ô Luas lokasi areal tanah yang cukup memadai untuk didirikannya bangunan
tersebut.
ô Lokasi tanah yang sangat spaten Semarang yang tidak terlalu bising.
2. Data Bangunan
Proyek Pembangunan Gedung RSUD AMBARAWA, antara lain :
Ο Gedung Poliklinik dibangun di atas tanah seluas 315 m2 dan luas bangunannya
420 m2 (Gedung 2 lantai)
Ο Gedung Instalasi Gizi dibangun di atas tanah seluas 405 m2 dan luas
bangunan 722,25 m2 (Gedung 2 lantai)
Ο Gedung Workshop dibangun di atas tanah seluas 531 m2 dan luas bangunannya
300,9 m2 (Gedung 1 lantai)
Ο Gedung IGD dibangun di atas tanah seluas 376 m2 dan luas bangunannya
312 m2 (Gedung 1 lantai)
Masing-masing Proyek Pembangunan Gedung RSUD AMBARAWA mempunyai elevasi
banguann terendah dan elevasi bangunan tertinggi.
Penulis mengambil contoh Gedung Poliklinik dengan elevasi bangunan
terendah : ± 0.00 dan elevasi bangunan tertinggi : ± 9,5 m
Proyek ini dibiayai APBD dan APBN Kabupaten Semarang.
F. Metode Pengumpulan Data
Dalam pembuatan laporan artikel, penulis menggunakan metode yang berdasarkan
pada :
Ο Peninjauan dan pengamatan langsung.
Ο Penjelasan dan tanya jawab dengan pelaksana (Bapak Bagus Irawan) dan pekerja di
lapangan.
Ο Penjelasan dari direksi pengawas lapangan.
Ο Gambar-gambar proyek
Ο Data-data lain dari literatur terkait.
Laporan artikel ini penulis sajikan yaitu bagian pondasi, sub struktur selain itu
juga mengamati cara pengelolaan proyek agar dapat berjalan sesuai rencana.
G. Manajemen dan Organisasi Proyek
Ο Tinjauan Umum
õ Proyek adalah suatu rangkaian kegiatan sementara yang berlangsung
dalam jangka waktu terbatas dengan alokasi sumber daya tertentu dan
dimaksudkan untuk melaksanakan tugas dan sasarannya telah digariskan dengan
jelas.
õ Faktor - faktor yang mempengaruhi agar pelaksanaan proyek dapat berjalan
lancar, antara lain :
1. waktu
2. biaya
3. mutu
õ Agar ke-3 Faktor - faktor tersebut berjalan lancar dalam pelaksanaan
proyek perlu dibentuk sistem organisasi yang dapat mengelola dan mengatur
tiap-tiap organisasi kerja dari seluruh kegiatan proyek.
õ Pelaksanaan pembangunan diartikan sebagai kegiatan melakukan pekerjaan
pada suatu lokasi proyek sehingga pembangunan terwujud. Proses yang
perlu dipikirkan dalam proses pembangunan yaitu cukup banyak tenaga
pekerja profesi yang aktif dan bermacam-macam bahan bangunan yang
digunakan. Setiap orang harus dapat memanfaatkan kepastian seefektif
mungkin sesuai peranannya dalam pelaksanaan pekerjaan proyek, yang
pada akhirnya menentukan keberhasilan suatu proyek. Hal ini terutama
sekali pada proyek yang berskala besar karena banyak hal yang
terkait dalam pelaksanaan proyek. Sasaran proyek dimaksudkan
untuk menghasilkan suatu bangunan yang dapat
dipertanggungjawabkan seperti yang diharapkan pemilik proyek. Manajemen
proyek sangat berperan dalam hal ini.
õ Dalam Proyek Pembangunan Gedung RSUD AMBARAWA penulis amati bawa
kekurangan terdapat pada pelaksanaan pekerjaan penulangan plat dan
pengecoran terlambat.
Ο Struktur Organisasi Proyek
Pada Proyek Pembangunan Gedung RSUD AMBARAWA, pemilik proyek
merangkap sebagai pemimpin proyek didukung oleh konsultan MK (Manajemen
Konstruksi), Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas dan Kontraktor.
Badan-badan unsur pendukung proyek tersebut adalah sebagai berikut :
º Pemilik Proyek Pembangunan Gedung RSUD AMBARAWA PEMDA Kabupaten Semarang.
º Konsultan Manajemen Konstruksi CV. Sembada Desain.
º Konsultan Pengawas CV. Nirmala dan CV. Cakra Agung.
º Konsultan Perencana CB. Sembada Desain.
º Badan Pengawas Pembangunan Departemen Pekerjaan Umum (DPU).
º Kontraktor Utama PT. Ampuh Sejahtera.
Badan-badan tersebut mempunyai hubungan antara satu dengan yang lain saling
terkait.
H. PERENCANAAN
Ο Tinjauan Umum
Suatu hasil karya akan lebih baik hasilnya apabila terlebih dahulu melalui
tahap perencanaan yang merupakan kegiatan awal dari suatu proses manajemen.
Maksud dari perencanaan proyek sebelum proyek dimulai adalah sebagai pedoman
mengikat semua pihak yang terlibat di dalam pelaksanaan proyek dapat
direalisasikan sesuai dengan rencana atau batasan yang telah ditetapkan
semula baik biaya, mutu maupun waktu serta perlu dibuat gambaran yang jelas
mengenai bentuk, ukuran-ukuran, spesifikasi dari proyek yang akan
dilaksanakan untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai proyek
tersebut sebelum dilaksanakan memperlancar dalam pelaksanaannya.
Pada proyek berskala besar dipengaruhi beberapa faktor non teknis yang
harus dipertimbangkan antara lain :
õ Faktor Fleksibility
õ Faktor Accepbility
õ Faktor Feasibility
Perencanaan suatu struktur haruslah memenuhi syarat kekuatan, kekakuan dan
kestabilan dengan berdasar pada hasil perhitungan dan peraturan-peraturan
yang berlaku. Peraturan-peraturan tersebut digunakan dalam
perencanaan struktur di Indonesia, antara lain :
º Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983.
º Peraturan Perencanaan Gedung Tahan Gempa Indonesia, PPTGI 1983.
º Peraturan Beton Bertulang Indonesia, PBI 1971.
º Standar Beton 1989.
º Peraturan dan Ketentuan Lain Yang Relevan.
Ο Dasar Perencanaan Struktur
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan struktur bangunan
tinggi, antara lain :
õ Syarat stabilitas dinamis.
õ Syarat kekuatan statis dan dinamis.
õ Syarat ekonomis.
õ Syarat estetika (keindahan).
Ο Dasar Perhitungan
Sebuah bangunan agar kuat dan aman maka persyaratan kekuatan bahan
harus dipenuhi. Sebagai dasar perencanaan yang dipakai di Proyek Pembangunan
Gedung RSUD AMBARAWA, antara lain :
õ Peraturan Umum tentang Pelaksanaan Pembangunan di Indonesia 1941.
õ Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 (PBI 1971) dan Peraturan Beton
Indonesia (PBI 1989).
õ Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI 1961).
õ Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SK. SNI T 15-1991-
03.
õ Peraturan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBI 1982).
õ Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI 1983).
Ο Perencanaan Arsitektur
Perencanaan arsitektur merupakan tahap awal dari suatu perencanaan bangunan.
Perencanaan arsitektur dimulai dengan membuat beberapa alternatif gambar
dari rencana bangunan yang dimaksud, lengkap dengan gambar-gambar denah,
tampak bangunan serta gambar potongan sesuai dengan keinginan dan saran
pemilik proyek.
Perencanaan arsitektur Proyek Pembangunan Gedung RSUD AMBARAWA ini adalah
dengan mempertimbangkan kepentingan pemilik dalam hal ini tidak
meninggalkan nilai-nilai keindahan dan estetika serta diberfungsi sebagai
tempat pelayanan kesehatan masyarakat.
Hal-hal yang dikerjakan antara lain perencanaan tata ruang dalam (interior),
tata ruang luar (exterior), pengaturan cahaya, pengaturan sirkulasi udara
serta finishing arsitektur yang disajikan dalam bentuk gambar-gambar rencana,
juga jenis bahan dan material yang dipakai.
Dasar perencanaan struktur arsitekturnya adalah bangunan dirancang mengacu pada
budaya Jawa yaitu rumah adat joglo, selain itu juga arsitekturnya disesuaikan
dengan fungsi dan keindahan dari bangunan tersebut.
Ο Perencanaan Mechanical dan Electrical
Bidang Mechanical dan Electrical sebagai penunjang fungsi gedung sangat
diperlukan keberadaannya. Untuk itu perencanaan pada bidang ini perlu
mendapatkan penanganan yang serius karena menyangkut fungsi kenyamanan
dan kelengkapan suatu bangunan.
õ Lingkup Perencanan Mechanical, antara lain ;
a. Pekerjaan Plumbing
b. Instalasi Pengatur Udara
c. Instalasi Penangkal Petir
õ Perencanan Electrical
Sumber daya listrik terutama dari PLN dan sumber cadangan berasal dari
diesel generator set (digunakan apabila suplai dari PLN mengalami
gangguan). Pemindahan sumber listrik ari PLN ke diesel genset dan
sebaliknya dilakukan secara otomatis.
I. Bahan dan Peralatan
Ο Tinjauan Umum
Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi kelancaran pelaksanaan pekerjaan
banyak tergantung kepada pengadaan material dan pemanfaatan perlatan yang
efektif dan efisien serta harus mendapat perhatian khusus terutama dalam
hal pengawasan yang baik terhadap mutu dan standar material. Hal ini
berkaitan langsung terhadap kualitas konstruksi. Penempatan material yang
hendak digunakan baik tempat terbuka maupun di dalam ruangan harus
disesuaikan sebaik-baiknya dengan sifat material tersebut. Pemakaian alat
berat hendaknya disesuaikan dengan jenis dan volume pekerjaan. Penyesuaian ini
menyebabkan pemakaian alat berat menjadi efisien, tidak memakan tempat
dengan menghasilkan profuktifitas kerja yang maksimal tenaga yang
terampil dengan berpengalaman merupakan kunci dalam enggunaan peralatan
ini. Hal ini yang tidak kalah penting adalah pemeliharaan alat.
Ο Bahan Bangunan
Bahan bagunan adalah salah satu faktor penting dalam pengerjaan
suatu proyek, sebab mutu dan kekuatan bangunan tersebut ditentukan antara
lain oleh kualitas bahan bangunan yang digunakan disamping oleh hal lain yaitu
perencanaan, pelaksanaan dan finishing.
Bahan bangunan yang dipakai dalam proyek ini, antara lain :
õ Semen (Portland Cement)
Portland Cement adalah bahan pengikat campuran beton yang bersifat hidrolis
artinya bila dicampurkan dengan air akan mengalami proses pengerasan. Jadi PC
sangat menentukan pada kekuatan atau mutu beton yang dihasilkan.
Semen untuk seluruh kegiatan pembagunan Proyek Gedung RSUD AMBARAWA
menggunakan semen (PC) type I sesuai ASTM C 150 merk Tiga Roda
TI.114.KA.1E dan segala sesuatunya mengikuti ketentuan P.B.I.71.
PC tersebut disuplai dari salah satu pabrik yang telah
disetujui oleh pengawas terlebih dahulu.
õ Agregat
º Agregat halus
Pasir yang digunakan dalam adukan beton dan lantai kerja adalah pasir
muntilan. Pasir yang digunakan tersebut harus memenuhi persyaratan seperti
yang diisyaratkan di bawah ini :
Adapun syarat-syaratnya adalah sebagai berikut :
Ö Pasir untuk beton, adukan harus merupakan pasir alam, pasir hasil
pemecahan batu dapat pula digunakan untuk mencampur agar di dapat
gradasi pasir yang baik. Pasir yang dipakai harus mempunyai kadar air
yang merata dan stabil serta harus terdiri dari butiran yang
keras, padat tidak terselaput oleh material lain.
Ö Pasir yang ditolak oleh pengawas, harus segera disingkirkan dari
lapangan kerja. Dalam membuat adukan baik untuk beton, plesteran maupun
grouting, pasir tidak dapat digunakan sebelum mendapat persetujuan
pengawas mencapai mutu dan jumlahnya.
Ö Pasir harus bersih dan bebas dari gumpalan-gumpalan tanah liat,
alkalis bahan-bahan dan kotoran-kotoran lainnya yang termasuk berat
substansi yang merusak tidak boleh lebih dari 5%.
Ö Pasir beton harus mempunyai modulus kehalusan butir sesuai dengan
persyaratan pada P.B.I.71.
º Agregat kasar
Split yang digunakan dalam proyek ini adalah split dari alam dan batu
pecah serta memenuhi persyaratan yang ditentukan. Split digunakan sebagai
campuran adukan beton.
Adapun syarat-syaratnya adalah sebagai berikut :
Ö Agregat kasar untuk beton berupa split dari alam, batu pecah atau
campuran dari keduanya. Split yang harus mempunyai kadar air yang merata
dan stabil, ebagaimana juga pada pasir, split keras, padat tidak poreous
dan tidak berselaput material lain. Dalam penggunaannya split harus
dicuci terlebih dahulu dan diayak agar didapat gradasi sesuai yang
dikehendaki dan material yang halus yaitu lebih kecil dari 5 mm
harus disingkirkan.
Ö Split yang sudah tersedia tidak dapat langsnug digunakan sebelum
mendapat persetujuan dari pengawas baik mengenai mutu ataupun jumlahnya.
º Air untuk Adukan Beton
Air yang digunakan untuk bahan adukan beton, adukan pasangan dan grouting,
bahan pencuci agregat dan curing beton, harus air tawar yang bersih dari
bahan-bahan yang berbahaya bagi penggunaannya seperti minyak, alkali,
sulfat, bahan organik, garam, silt (lanau) yang terkandung dalam air tidak
boleh lebih dari 2% dalam perbandingan beratnya. Kadar sulfat maksimum
yang diperkenankan adalah 0.5% atau 5 gr/lt, sedang kadar klor maksimum
1.5% atau 15 gr/lt. Kontraktor tidak diperkenankan menggunakan air dari
rawa, sumber air yang berlumpur ataupun dari air laut.
Tempat pengambilan harus menjaga kemungkinan terbawanya material-material
yang tidak diinginkan tadi. Bila akan dipakai bukan berasal dari minum dan
mutunya diragukan, maka pengawas dapat minta kepada pemborong.
Untuk mengadakan penyelidikan air secara laboratoris dan biaya penyelidikan
tersebut ditanggung pemborong air yang digunakan sebagai adukan beton adalah
air PAM yeng tersedia di lokasi proyek.
º Bahan pencampur (admixture)
Penggunaan bahan admixture harus dengan ijin tertulis dari pengawas
dan admixture ini harus merupakan bagian yang integral dari adukan beton
yang dibuat.
º Baja tulangan
Baja tulangan harus memenuhi ketentuan dalam Peraturan Beton Bertulang
Indonesia 1971 dengan mutu U-39 (Tegangan Karakteristik = 3900 kg/cm2)
untuk diameter (D) > 12 mm, sedangkan diameter (D) < 12 mm
digunakan U-24 (Tegangan Leleh Karakteristik = 2400 kg/cm2). Kontraktor
harus memberikan sertifikat dan hasil test dari pabrik pengawas untuk setiap
pengiriman. Berat besi dapat diperhitungkan dengan menggunakan nominal
diameter. Bila menggunakan wire mesh maka harus digunakan tipe
dengan electrically welded wire mesh dan memenuhi ketentuan-ketentuan
dalam ASTM A-185.
Semua baja tulangan yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut :
ö Bebas dari kotoran-kotoran, lapisan lemek atau minyak, karat dan
tidak bercacat seperti retak dan lain-lain.
ö Untuk mutu U-39 harus digunakan profil bajaa tulangan deformed (deformed
bar).
º Kayu
Syarat-syarat kayu yang harus digunakan dalam proyek ini adalah :
ö Kayu dipakai harus menggunakan kayu kelas 1, kayu berkualitas baik,
tua, kering dan tidak bercacat pecah-pecah serta tidak terdapat kayu
mudanya (splint).
ö Kelembaban kayu dipakai untuk pekerjaan kayu halus harus kurang 12-16%
dan untuk pekerjaan kayu kasar 16-18%, kelembaban tersebut ditentukan
kayu yang dikirim ketempat pekerjaan dan harus konstan sampai
bangunan selesai.
ö Selama pelaksanaan, mutu dan kekeringan kayu harus dijaga dengan
penyimpanannya ditempat kering dan terlindung dari hujan dan panas.
Untuk menjaga kualitas bahan bangunan dilakukan pemeriksaan bahan bangunan
agar nantinya dapat dicapai hasil yang memenuhi standar perencanaan yang
telah ditentukan sebelumnya. Yang dimakasud dengan pemeriksaan yang
berupa penyelidikan dan pengujian yang perlu dilakukan baik di lapangan
maupun di laboratorium terhadap bahan bangunan yang akan digunakan pada
proyek tersebut.
Ο Peralatan
Untuk mendukung jalannya pelaksanaan pekerjaan diperlukan alat-alat
(equipment) yang pada hakekatnya dapat dibedakan menjadi :
ö Heavyu Equipment (Alat Berat)
ö Temporary Equipment (Alat Temporer)
Peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan Proyek Pembangunan
Gedung RSUD AMBARAWA, antara
lain :
ö Theodolit
ö Waterpass
ö Meteran
ö Bar Bender (Pembengkok Besi Beton)
ö Bar Cutter (Pemotong Besi Beton)
ö Kunci Besi
ö Pompa Air (Pompa Air dengan Merk Honda WP 20x ini menggunakan selang
ukuran 2")
ö Molen (Molen Merk Glorindo kapasitas 0,35 m3 dengan penggerak diesel 6
SPK)
ö Slump Test (pertahap beton ditusuk-tusuk sebanyak 25x selama 3x setelah
itu diratakan)
ö Stamper (Stamper Merk Mikasa Tipe Ortodox dengan Mesin Diesel)
ö Concrete Vibrator
ö Perancah Kayu
ö Beton Decking
NB : Untuk lebih jelasnya mengenai bahan dan peralatan proyek lihat pada
lampiran.
J. Tahap Pelaksanaan
Ο Tinjauan Umum
Setelah tahap perencanaan selesai dikerjakan, maka tahap selanjutnya adalah
Pelaksanaan Proyek Pembangunan Gedung RSUD AMBARAWA yang telah dimulai pada
pertengahan bulan Agustus sampai dengan akhir bulan Januari.
Selain berdasarkan pada perencanaan yang baik untuk mendirikan bangunan suatu
gedung bertingkat.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendirikan bangunan suatu gedung
bertingkat, antara lain
ö Berdirinya suatu bangunan harus sesuai gambar perencanaan dimana pada
umumnya menyangkut masalah keindahan bentuk dan kekuatan konstruksi.
ö Sebelum pelaksanaan dimulai perencanaan mengenai urutan dan teknik pelaksanaan
pekerjaan fisik.
ö Penguasaan terhadap proyek yang akan dikerjakan oleh tenaga-tenaga yang
berpengalaman bidangnya.
Pelaksanaan pekerjaan yang akan dijelaskan oleh penulis disini adalah
pekerjaan penulis amati secara langsung di lapangan. Adapun pekerjaan yang
dimaksud adalah pekerjaan kolom, balok dan pelat lantai.
Ο Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan Proyek Pembangunan Gedung RSUD Ambarawa dimulai pada pertengahan
bulan Agustus sampai akhir bulan Januari 2002 dari lantai 1 dan lantai 2.
Ο Pekerjaan Persiapan
Yang dimaksud dengan pekerjaan persiapan ini meliputi pekerjaan permulaan,
penunjang, pendukung atau pelangkap dari seluruh pekerjaan struktur yang terdiri
dari :
ö Pekerjaan pembersihan lokasi
ö Pengadaan direksi keet
ö Penyediaan air dan listrik
ö Pekerjaan pengukuran (menentukan posisi dari bangunan yang dikerjakan agar
selesai dengan rencana desain seperti tercantum dalam gambar bestek).
Ο Pekerjaan Pondasi
Di dalam pelaksanaan pekerjaan pondasi pada Proyek Pembangunan RSUD
Ambarawa menggunakan pondasi foot plat dan pondasi batu belah.
Pelaksanaan pekerjaan pondasi tersebut oleh kontraktor utama
(PT. Ampuh Sejahtera).
Pekerjaan pondasi, antara lain :
ö Pekerjaan pondasi foot plat, meliputi :
ð Pekerjaan pengukuran
ð Penggalian tanah
ð Pengecoran
ð Pembongkaran begesting
ö Pekerjaan pondasi batu belah
Pekerjaan pondasi batu belah dilakukan setelah pekerjaan pondasi foot plat
selesai serta beton mengeras.
ö Pekerjaan kolom
Kolom berfungsi untuk menyalurkan beban-beban bagian atas yang kemudian
diterima oleh pondasi. Selain itu kolom juga sebagai kerangka bangunan.
Pekerjaan kolom, meliputi :
ð Pekerjaan pembesian
Cara pemasangan tulangan pada kolom adalah sebagai berikut :
º Tulangan utama dipasang bersamaan dengan tulangan sloof sesuai dengan
gambar desain.
º Setelah tulangan utama terpasang, tulangan sengkang dipasang
mengitari tulangan sengkang dipasang mengitari tulangan utama,
tulangan ikat dengan menggunakan kawat beton.
º Tahu beton dipasang pada sisi luar tulangan utama
Dalam pekerjaan kolom yang harus diperhatikan adalah as kolom yang terletak
di tengah dan hubungan antara kolom dan pondasi.
ð Pekerjaan begesting
Pekerjaan begesting kolom dilakukan setelah pembesian kolom selesai.
Cara pemasangan adalah sebagai berikut :
º Begesting ynag dirangkai di lapangan diberi pengaku dengan rangka balok.
º Di sekeliling dinding begesting kolom diberi pengaku dengan kayu bengkirai
penahan agar egesting kuat tidak melengkung di waktu pengecoran.
ð Pekerjaan pengecoran
Sebelum pengecoran perlu diadakan pemeriksaan begesting, pemeriksaan tersebut
antara lain :
º Pemeriksaan terhadap as-as kolom beserta dimensinya.
º Pemeriksaan penunjang begesting-begesting kolom.
º Pemeriksaan begesting kolom apakah sudah lurus atau belum.
Pengecoran menggunakan beton mutu K-250 yang pengecorannya menggunkan alat
manual (Pekerja langsung mengecor). Untuk memadatkan adukan beton digunakan
Vibrator.
ö Pekerjaan Balok
Pekerjaan balok, meliputi :
ð Pekerjaan bagesting
Bahan begesting adalah multiplek 12 mm dan kayu 5/7 yang sudah dibuat di
lapangan. Pemasangan begesting balok dilakukan setelah pengecoran dan
pembongkaran begesting kolom.
Cara pemasangannya sebagai berikut :
º Multiplek untuk begesting balok didirikan lalu diletakkan kayu-kayu
memanjang diatasnya.
º Dinding bawah begesting balok dipasang dilanjutkan dengan pemasangan
dinding begesting di kiri-kanannya.
ð Pekerjaan pembesian
Pekerjaan ini dilakukan setelah pekerjaan begesting telah selesai.
Pemasangan tulang balok adalah sebagai berikut :
º Tulangan utama dipasang sesuai dengan gambar desain.
º Tulangan utama dirangkai diatas begesting balok dengan digantungkan pada
tulangan kolom.
º Tulangan sengkang dipasang dan kemudian diikatkan pada tulangan utama
dengan bendrat sesuai dengan jarak yang ditentukan.
º Tahu beton setebal 20 mm dipasang dibawah disamping kiri-kanan dari
tulangan untuk mendapatkan selimut.
ð Pekerjaan pengecoran
Pekerjaan pengecoran dilakukan setelah pekerjaan pembesian dan
begesting selesai. Sebelum pengerjaan pengecoran dilakukan, beberapa yang
perlu diperhatikan :
º Pembersihan pada lokasi yang di cor.
º Pemeriksaan begesting balok.
º Pemeriksaan penunjang-penunjang balok.
º Pemeriksaan terhadap elevasi tinggi balok.
Pengecoran balok menggunakan beton mutu K-250 dan dilakukan langsung
di cor ke begesting balok dan memadatkan adukan beton untuk lantai 1
ditumbuk dengan tongkat pemadat sampai padat serta untuk lantai 2 pemadatan
adukan beton menggunakan Vibrator. Bila daerah yang di cor sekaligus,
maka pemberhentian pengecoran dilakukan pada 1/3 panjang bentang yang
diukur dari as ke as. tiap pengecoran dilakukan pada 1/3 panjang bentang yang
diukur dari as ke as.
ö Pekerjaan Plat Lantai
Pekerjaan plat lantai, meliputi :
ð Pekerjaan bagesting
Bahan begesting adalah multiplek 12 mm dan kayu 5/7 yang
pembuatannya dilakukan dilapangan.
Pemasangan begesting plat dilakukan setelah begesting balok yang ada di
sekeliling plat lantai setelah terpasang.
Pekerjaan begesting plat dilakukan bersamaan dengan pekerjaan begesting
balok.
Cara pemasangannya sebagai berikut :
º Di atasnya dipasang balok-balok kayu secara horisontal.
º sebagai penahan beton kayu bengkirai dan multiplek.
Begesting plat diusahakan tanpa sambungan. Jika terdapat sambungan maka
diberi dempul agar air semen tidak rembes.
ð Pekerjaan pembesian
Pekerjaan ini dilakukan setelah pekerjaan begesting telah selesai.
Pemasangan tulangan pada plat adalah sebagai berikut :
º Tulangan bagian bawah disusun terlebih dahulu dan diatur jaraknya.
Bagian yang bertemu dengan baik diikat dengan bendrat.
º Tulangan-tulangan atas dipasang dan diikatkan pada tulangan balok.
º Untuk menjaga jarak antara tulangan atas dengan tulangan bawah dipasang
besi khusus.
º Tahu beton setebal 20 mm dipasang pada tulangan plat.
ð Pekerjaan pengecoran
Pekerjaan pengecoran dilakukan pemeriksaan terhadap begesting perlu
dilakukan antara lain :
º Pemeriksaan begesting plat.
º Pemeriksaan elevasi.
º Pemeriksaan penunjang-penunjang plat.
Pengecoran plat lantai menggunakan beton mutu K-250 dan dilakukan oleh
pekerja dan untuk memadatkan digunakan alat Vibrator. Sebelum
pengecoran begesting disiram dulu dengan air semen, agar begesting tidak
menyerap air dari adukan beton tersebut.
Untuk balok dan plat pengecoran dilakukan bersamaan, penghentian
pengecoran kira-kira ditempatkan 1/4 bentang, dimana 1/4 bentang momen
dianggap nol dengan gaya geser relatif kecil serta dibuat miring 45⁰
untuk menghindari retak-retak dan memperluas bidang pengecoran.
ð Pembongkaran begesting atau cetakan
Pembongkaran cetakan dilakukan apabila beton benar-benar telah kering
berdasarkan perhitungan benda uji dilaboratorium dan tiap pembongkaran
harus disetujui oleh Direksi.
Cetakan dapat dibongkar jika umur beton telah mencapai waktu sebagai
berikut :
º Kolom : 24 jam
º Bagian Sisi Balok : 48 jam
º Balok tanpa beban : 7 hari
º Balok dengan beban : 21 hari
º Plat lantai : 21 hari
Cetakan beton dapat dibongkar lebih awal asal benda uji telah mencapai
kekuatan 75% dari kekuatan 28 hari.
Δ Untuk lebih jelasnya mengenai tahap pelaksanaan kolom, balok dan plat
lantai lihat gambar tahap pelaksanaan pada lampiran.
Catatan :
ô Kelebihan Beton Mutu K-250 :
Ö Beton Mutu K-250 memiliki σbk (kuat tekan beton karakteristik) > 250
kg/cm2, σbm (kuat tekan beton rata-rata) > 300 kg/cm2.
Ö Beton Mutu K-250 memiliki tujuan strukturil.
Ö Beton Mutu K-250 memiliki pengawasan terhadap mutu agregat kuat dan kuat
tekan beton kontinu.
Ö Beton Mutu K-250 merupakan kelas III.
Ö Beton yang kontinu berhubungan dengan air tawar memiliki jumlah semen
minimum per m3 beton = 275 kg.
Ö Beton yang kontinu berhubungan dengan air tawar memiliki nilai faktor air
semen maksimum = 0,57.
ô Kekurangan Beton Mutu K-250 :
Ö Apabila pada agregat kasar terpisah dari campuran beton segar selama
transportasi pengecoran, penggetaran atau pemadatan.
yang disertai keluarnya air pada permukaan beton maka dihasilkan beton
yang kurang baik mutunya, antara lain :
º Peristiwa segregasi dan bleeding (terjadi kantung-kantung batu jadi
lemah, permeubel dan kurang awet)
º Segregasi kemungkinan besar pada kondisi-kondisi berikut ini :
∆ Campuran kurang semen.
∆ Campuran basah.
∆ Campuran kurang pasir.
∆ Adanya besar butiran maksimum dari agregat.
∆ Agregat kasar tidak menyerupai kubus.
∆ Agregat yang digunakan terlalu ringan atau berat.
∆ Gradasi agregat yang kurang baik.
∆ Transportasi dan pengecoran yang kurang baik.
∆ Apabila bentuk penulangan kurang bagus, banyak detail dan sudut-sudut
tajam.
K. Pengawasan dan Pengendalian Proyek
Ο Tinjauan Umum
Pengawasan(Controlling) adalah suatu proses penilaian pelaksanaan kegiatan
dengan tujuan agar hasil pekerjaan sesuai dengan rencana, yaitu dengan
mengusahakan agar semua pihak dapat melaksanakan kegiatan dengan berpedoman
pada perencanaan serta dengan mengadakan tindakan koreksi dan perbaikan.
Sedangkan pengendalian (supervising) merupakan kegiatan arahan,
pemberian instruksi, dorongan dan mengadakan koordinasi antar berbagai
kegiatan oleh atasan kepada bawahan dengan agar pelaksanaan tugas dapat
berjalan dengan lancar, serta memelihara hubungan kerja yang serasi antara
atasan dan bawahan (Reporting).
Untuk mencapai hasil yang diinginkan sesuai standar kualitas yang sedang
ditentukan dalam dokumen lelang, maka dalam pekerjaan sebuah proyek diperlukan
adanya dua hal yang diatas yang dilakukan oleh unsur-unsur pelaksana
dalam berbagai bidang diantaranya konsultan MK dan kontraktor.
Sebuah proyek dikatakan sukses apabila dapat mencapai mutu yang
diperisyaratkan, biaya yang dikeluarkan tidak melebihi ketentuan dan waktu
pelaksanaan pekerjaan pembangunan tersebut sesuai dengan rencana.
Ruang lingkup pengawasan dan pengendalian yang bisa dilaksanakan pada suatu
proyek adalah :
ð Pengawasan dan Pengendalian Waktu Pelaksanaan (Time Control)
Proyek dinilai berhasil bila selesai tepat pada waktunya.
ð Pengawasan dan Pengendalian Mutu Pekerjaan (Quality Control)
Hasil pekerjaan sesuai dengan yang diisyaratkan dalam spesifikasi.
ð Pengawasan dan Pengendalian Biaya Pekerjaan (Cost Control)
Proyek tersebut dalam pengeluaran dan tidak melebihi dari yang sudah
direncanakan.
Dengan adanya kerjasama yang baik di bidang pengawasan dan pengendalian antara
konsultan MK dan kontraktor,maka kualitas bangunan yang diisyaratkan akan bisa
tercapai.
L. Penutup
Ο Kesimpulan
Dari uraian di atas penulis dapat menyimpulkan pada Proyek Pembangunan Gedung
RSUD Ambarawa (Gedung Poliklinik) :
ð Pekerjaan Kolom lantai 1 dan lantai 2 menggunakan beton mutu K-250.
ð Pekerjaan Balok lantai 1 dan lantai 2 menggunakan beton mutu K-250.
ð Pekerjaan Plat Lantai 1 dan Plat Lantai 2 menggunakan beton mutu K-250.
Selain itu penulis mendapatkan banyak pengalaman berupa macam-macam pekerjaan
yang terjadi di lapangan serta pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya
administratif. Dari asil pengamatan selama di Proyek Pembangunan RSUD
Ambarawa (Gedung Poliklinik) oleh Kontraktor Utama "PT. Ampuh Sejahtera" kami
dapat menarik berbagai manfaat dan persoalan yang ada di lapangan.
Adapun kesimpulan yang dapat kami uraikan adalah sebagai berikut :
ð Dalam suatu proyek agar pelaksanaan pekerjaan berjalan lancar sesuai
dengan waktu, biaya dan mutu perlu dibentuk sistem organisasi kerja yang
dapat mengatur atau mengendalikan seluruh kegiatan.
ð Perlu adanya rencana yang baik dan matang, yang diwujudkan dalam
Time Schedule yang harus ditinjau setiap pelaksanaan pekerjaan. Dalam
proyek ini target hasil yang dicapai selalu melampaui dari perencanaan.
Untuk pelaksanaan pekerjaan seperti : Pembesian, pengecoran, pembuatan
begesting sudah sesuai dengan rencana.
ð Di dalam melaksanakan suatu pekerjaan proyek perlu sekali diperhatikan
masalah penyediaan bahan serta kesiapan peralatan yang akan digunakan.
Pengiriman bahan atau material yang terlambat akan mengganggu pekerjaan yang
lain. Pelaksanaan di lapangan sering berbeda dengan perencanaan sebagai
contoh pelaksanaan pekerjaan pemasangan dan pengecoran pelat
lantai terlambat. Selain itu peralatan yang akan digunakan kurang terawat
sehingga pada waktu digunakan terjadi kerusakan. Material yang digunakan
seringkali tidak teratur sehingga pada saat pengambilan material akan
mengalami kesulitan.
ð Keselamatan dan kesehatan tenaga kerja perlu diperhatikan karena tenaga
kerja adalah faktor produksi yang sangat menentukan terwujudnya suatu
proyek.
Proyek Pembangunan Gedung RSUD Ambarawa (Gedung Poliklinik) ini keselamatan
dan kesehatan tenaga kerja sangat diperhatikan oleh kontraktor utama
"PT. Ampuh Sejahtera".
Ο Saran
Saran-saran yang penulis dapat disampaikan adalah sebagai berikut :
ð Perlu adanya koordinasi dan penyampaian informasi yang terkoordinir dengan
baik ke semua bagian dari pelaksanaan proyek, sehingga dapat dihindarkan
adanya pekerjaan yang tidak sesuai dengan rencana. Dan perlu adanya
hubungan koordinasi antara organisasi-organisasi yang terdapat dalam suatu
proyek.
ð hasil yang telah dicapai selalu melampaui target, hal ini perlu dipertahankan
dan ditingkatkan.
ð Dalam hal mendatangkan material dan penempatannya harus diperhitungkan
dengan cermat dan teliti sesuai dengan kebutuhan yang ada dan apabila
perhitungan kurang teliti maka akan menghambat pekerjaan di lapangan. Selain
itu bagian penerima barang harus tahu sisa pemasukan atau penerimaan
material atau peralatan yang masuk.
ð Kerjasama antara pihak-pihak yang terlibat dalam proyek ini perlu
dijaga, dikembangkan dan ditingkatkan, sehingga masalah-masalah yang timbul
di lapangan dapat diatasi bersama.
ð Keselamatan dan kesehatan tenaga kerja perlu diperhatikan dan
ditingkatkan, karena tenaga kerja adalah aktor produksi yang sangat
menentukan sukses tidaknya suatu proyek.
M. Daftar Pustaka
1. Heinz Frick, 1980, Konstruksi Bangunan 1, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
2. Heinz Frick, 1980, Konstruksi Bangunan 2, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
3. H. Bachtiar Ibrahim, 1996, Rencana dan Estimate Real Cost, Penerbit Bumi
Aksara, Jakarta.
4. Mohammad Faizal, Mohammad Tayaminor, 1994, Laporan Kerja Praktek Proyek
Pembangunan Gedung STIMIK Dian Nuswantoro, Semarang.
5. Wiwit Wicaksono, 1995, Laporan Kerja Praktek Proyek Pembangunan SMU 3,
Semarang.
6. Bambang Abas, 1996, Laporan Kerja Praktek Proyek Pembangunan Gedung OK
Rs. St. Elisabeth, Semarang.
7. Soewardji Tandio soegondo, Ilmu Bahan dan Bangunan, Penerbit Tiga Solo.
8. Ir. Rudi Gunawan, 1967, Pengantar ilmu Bangunan, Penerbit CV. Pelajar Bandung.
9. Ir. Kartono Wibowo, MM, 2001, Catatan Mata Kuliah Manajemen Proyek dan
Konstruksi, Dosen FT. Sipil Unissula, Semarang.
10. Ir. Pudjo Rahardjo, MSP, 2001, Catatan Mata Kuliah Manajemen Proyek dan
Konstruksi, Dosen FT. Sipil Unissula, Semarang.
11. Sulistyaningsih, 1998, Laporan Kerja Praktek Proyek Pembangunan Gedung RSUD
Ambarawa, Jl. Kartini No. 101 Ambarawa.

LAMPIRAN :
ð




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar